Showing posts with label ACEH. Show all posts
Showing posts with label ACEH. Show all posts

Wednesday, November 25, 2015

Di Balik Layar Sang Pejuang Referendum

Gambar Spanduk Yang Menuliskan REFERENDUM.(Google Image)

ACEH LON SAYANG, ACEH LON MALANG. Begitulah suasana kehidupan di Aceh pasca pencabutan status Daerah Operasi Militer (DOM), pada 7 Agustus 1998. Harapan akan bisa menjalani kehidupan yang normal, tanpa takut terhadap aksi-aksi kekerasan, penculikan, maupun pembunuhan yang sempat terbersit di benak setiap orang Aceh hanya menjadi impian semu belaka. Penculikan dan pembunuhan secara misterius masih tetap terjadi. Bahkan tidak lama setelah itu, Baharuddin Jusuf Habibie, selaku Presiden Republik Indonesia saat itu, kembali meneruskan luka Aceh dari pendahulunya Mantan Presiden Soeharto. Penerapan operasi militer baru yang diberi nama “Operasi Wibawa” diterapkan lagi pada awal Januari 1999.

Kondisi Aceh yang semakin lama semakin tidak menentu ini membuat gerakan sipil dan tokoh masyarakat Aceh mulai meningkatkan perlawanannya. Berbagai aksi demonstrasi serta sumbangsih pemikiran untuk memberikan berbagai solusi politik sebagai upaya kompromi dengan pemerintah pusat pun dilakukan.

Puncaknya terjadi saat mahasiswa dan pemuda Aceh menggelar kongres perdananya. Kongres itu diberi nama Kongres Mahasiswa Pemuda Aceh Serantau (KOMPAS). 104 lembaga Mahasiswa, santri, pemuda, pelajar, district organization, pressure groups, dan lembaga solidaritas masyarakat Aceh yang ada di seluruh Aceh, luar Aceh, bahkan di luar negeri mengikuti kongres tersebut.

Saturday, January 10, 2015

1873, Perang Aceh & Masjid Raya Baiturahman

Aceh dalam perjalanannya selalu memberikan kesan yang sulit terlupakan setidaknya itulah yang ingin saya sampaikan dari tulisan ini, mulai dari rentetan konflik berkepanjangan, karakter manusianya yang sulit dimengerti apalagi kalau kita mempelajari persoalaan jiwa fanatisme yang sangat kuat terhadap agamanya yang tentunya menjadi pengikat yang kuat dalam kehidupan masyarakatnya, karena sesungguhnya sampai hari seorang ilmuan terkenalpun susah memisahkan antara orang aceh dan agamanya.

Friday, September 5, 2014

MoU Helsinki Menurut Konvensi Wina 1969

OLEH :

Oleh Yusuf Al-Qardhawi Al-Asyi

SEMBILAN tahun silam, tepatnya 15 Agustus 2005, Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menetapkan sebuah kesepakatan politik yang menentukan bagi masa depan Aceh yang tak asing lagi didengar, yaitu Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki. Proses terwujudnya MoU Helsinki telah dirintis sejak tahun 2000 pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Proses perundingan soft power yang difasilitasi oleh Henry Dunant Centre (HDC) itu melahirkan Jeda Kemanusiaan I dan II (Joint Understanding on Humanitarian Pause For Aceh), serta Moratorium Konflik yang ditandatangani pada 12 Mei 2000 di Jenewa, Swiss. Jeda Kemanusiaan ini berakhir 15 Januari 2001 dengan tidak menghasilkan kemajuan apapun, bahkan keamanan Aceh semakin tidak stabil(Sumaryo Suryokusumo, 2007:128).

Sunday, August 31, 2014

Membaca Pikiran Hasan Tiro



Membaca Pikiran Hasan Tiro
Selasa, 3 Juni 2014 11:52 WIB
(Membuka ‘Kotak Hitam’ Sejarah Aceh)


Oleh
 Husaini Ibrahim

Tgk Muhammad Hasan di Tiro

MEMBACA pikiran Hasan Tiro bisa dilihat dari gagasannya yang dituangkan dalam berbagai karyanya, baik yang telah diterbitkan atau yang belum, dan boleh juga diamati dari tindakannya yang mulai memimpin memberikan kuliah di universitas tertutup (UT) di Gunung Halimun, Kabupaten Pidie pada 1976. Dalam kuliah itu dihadiri oleh mahasiswa perdana, kemudian berlanjut dengan mendirikan “University of Aceh” di Pidie yang kuliah perdana dimulai pada 20 September 1977. Banyak mahasiswanya kemudian berhasil diwisuda, ada beberapa alumni telah almarhum, ada yang “disekolahkan” pada masa Orde Baru, dan beberapa di antaranya telah menjadi “orang” dan memegang peranan penting di Aceh dan di luar negeri.

Saturday, August 30, 2014

DIPLOMASI ACEH DARUSSALAM & TURKY USMANY

Peradaban Islam TURKEY USMANIYAH pada putaran tahun (1288-1923 M / 1299–1923 M) menjadi salah satu kekuatan ataupun kerajaan yang sangat di takuti pada di dunia , turkey usmaniyah pada saat itu menjadi salah satu kiblat kekuatan mileter dunia dan sekalingus menjadi salah satu bangsa yang sangat di segani. selain Terkenal dengan kekuatan militernya bangsa ini juga menjadi salah satu bangsa yang menjadi pusat peradaban islam terkuat pada saat itu yang sekaligus membuat kekuatan dan pengaruh bangsa - bangsa di eropa mulai memudar.

Sebagai bangsa muslim, tentunya turkey usmaniyah pernah melakukan hubungan diplomatik dengan bangsa - bangsa muslim lainnya seperti dengan kerajaan - kerajaan di semenanjung timur tangah dan sebahgian kecil bangsa - bangsa muslim di afrika tidak terkecuali di wilayah asia khususnya di wilayah asia tenggara, salah satu kerajaan islam yang menjalin hubungan diplomatik sangat dekat dengan turkey usmaniyah adalah kerajaan atjeh darussalam.

KERAJAAN ATJEH DARUSSALAM merupakan kerajaan yang terletak di ujung pulau sumatera tepatnya di bahgian asia tenggara berbatasan langsung dengan selat malaka yang pada saat itu menjadi salah satu pelabuhan terkemuka di dunia. Adapun bukti kedekatan hubungan diplomatik kedua negara dapat kita lihat nyata dengan kesamaan bendera dari kedua negara



Bendera Turkey Usmaniyah



Bendera Kerajaan Atjeh Darussalam

Selain itu kedekatan hubungan kedua negara tersebut juga dapat di buktikan dengan adanya salah satu perkampungan Turkey di Atjeh tepatnya di kota banda aceh yang di kenal dengan kampung Bitai, Sebab perkampungan ini terkenal sebagai Turki-nya Atjeh. Bitai adalah salah satu Gampong di Banda Aceh di kecamatan Jaya Baru. Banyak makam kuno yang berasal dari Turki Utsmani. Termasuk makam Sultan Salahuddin. Dari Gampong ini juga, persahabatan Atjeh - Turkey begitu dekat.

Muhammad Hasan Tiro Dimata Seorang Supir Taxi Kurdistan



Tengku Muhammad Hasan Tiro

Suatu malam, musim panas di berlin, juli 2010. beberapa orang aceh ingin makan nasi, sebagai mana banyaknya orang indonesia nasi adalah makanan pokok. di dampingi oleh gunar stage seorang peneliti jerman yang tinggal di aceh dan saiful haq staf FES indonesia, maka diputuskan untuk jalan kaki kerumah makan turky yang terletak sekitar 300 meter dari hotel mereka menginap.
resep donat empuk ala dunkin donut resep kue cubit coklat enak dan sederhana resep donat kentang empuk lembut dan enak resep es krim goreng coklat kriuk mudah dan sederhana resep es krim coklat lembut resep bolu karamel panggang sarang semut